cemburu

jealous
jealous
“rasa cemburu gag akan ilang, selagi masih hidup…”
tapi apa kalo udah mati akan tenang dialam sana? dan hanya Tuhan yang Maha mengetahui.
beberapa orang sedang ngobrol di ruang tamu sambil menikmati segelas es buah yang bisa membuat tenggorokan ini merasakan kemerdekaan dari cengkeraman belenggu udara panas di kota Bj.
entah topik apa yang mereka bicarakan aku kurang begitu mengikuti, hanya saja sekali ku dengar kata cemburu seperti diatas itu, aku malah asyik melihat-lihat update status di salah satu situs jejaring sosial, padahal rumah ini begitu ramai, jerit tawa keponakan, yang berkumpul melepas rindu karena sudah lama tak jumpa. tapi, bagiku masih terasa sepi,
” Srasa ga’ punya siapa2 selain diri sendiri..nikmati aja deh..”
( NeeTha Fy  : 11 September jam 13:21 melalui Web Seluler )
dan “entah kebahagiaan apa yang diterima kekasih,hingga…”,
menambah kekosongan hati ini,
,hhmmm…. kembali lagi terngiang kata cemburu tadi, jadi teringat

“Cemburu adalah dinding antara cinta dan benci”

Jealousy is the wall between love and hate


terkena imbas rasa cemburu akan membuat pikiran kacau balau, hati menjadi keras tak berpendirian, hanya bisik-bisik samar yang terdengar, dinding besar nan tinggi, menjadi batas antara rasa cinta dan kebencian, prasangka buruk pun berbisik, sedangkan mata yang gelap tak tau apa yang terjadi dibalik tembok itu.
sedang apa dia disana, bersama siapa dia berjalan, duduk, bicara, makan, minum, akankah HATI-nya baik-baik saja,
dengan siapa dia dan siapa saja dan siapa mereka dan siapa lagi,
banyak pertanyaan yang tak pernah ada jawabnya, dan entah kepada siapa juga pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan,
padahal baru kemarin, hari ini, beberapa detik yang lalu, masih merasa dia begitu istimewa,
hingga wujud keistimewaan cinta diterjang badai kebencian dan memporak-porandakan keindahan rasa itu,
dan kini hanya bisa berdiri sendiri tak ada arti, harga diri terkoyak diantara tembok kebimbangan, bagai kerikil di jalanan yang tak seorangpun mau meliriknya,bahkan jika terinjak akan ditendang ketepi jalan, kembali ku merenung..,
lantas dimanakah berdiriku sekarang?
apakah aku disisi cinta atau dibalik tembok kebencian?
dua tempat yang terpilih dengan sendirinya tanpa ada negosiasi terlebih dahulu,
semoga… aku tetap berdiri dimana aku masih bisa memilikinya. aku masih memiliki hati yang tetap kukuh disisi tembok cinta ini.
wahai…,
“robohkan tembok itu, robohkan cemburu dengan rasa kepercayaan,
seberapa besar tembok itu pasti akan hancur
seperti kerasnya batu yang luluh hanya dengan tetesan air”.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s